Kuiiik, kuiiik!
Itulah bunyi yg keluar dari cerobong asap Lokomotif Uap Kecil yang sering melintas & membelah kota Tasikmalaya Tempo Doeloe & anak2 pd jamannya menamai Kareta Api tsb dgn sebutan "Si Kuik".
ada satu KA lg yaitu “Si Kuong”, namun jenis yang kedua ini adalah kereta penumpang biasa yang bunyinya selalu terdengar "kuooong-kuooong" dan melintasnya tdk ke Kota Tasikmalaya tp ke arah Barat (Ciawi, Leles, Bdg) & ke arah Timur (Ciamis, Banjar dst). Kedua KA ini adalah kereta yang masih memakai tenaga batu bara atau suluh.
Dalam sejarah SITU GEDE ini diceritakan juga tentang CIBEUREUM, SAMBONG, MANGKUBUMI, SINGAPARNA, MANGUNREJA, Beginilah Ceritanya :
Siapakah KH. Z. Mustofa?
Zaenal Mustofa adalah pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya dan pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang. Nama kecilnya Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna (kini termasuk wilayah Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame) Kabupaten tasikmalaya (ada yang menyebut ia lahir tahun 1901 dan Ensiklopedi Islam menyebutnya tahun 1907, sementara tahun yang tertera di atas diperoleh dari catatan Nina Herlina Lubis, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat). Namanya menjadi Zaenal Mustofa setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1927.
Dalam sejarah kemerdekaan kita, banyak sekali sosok pejuang yang berasal dari kalangan ulama. Termasuk kalangan pesantren. Salah satunya adalah KH. Z. Mustofa, ulama pejuang dari Sukamanah, Singaparana, Tasikmalaya, yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 20 November 1972.
Tidak banyak yang mengenalnya. Di Jakarta, sejauh ini tidak ada nama jalan yang mengabadikan namanya. Begitu pula di Bandung, ibukota provinsi Jawa Barat. Hanya di Tasikmalaya nama KHZ Mustofa terpampang sebagai nama jalan protokol.